before i have to move from Jakarta

everyone is looking for the best and try to be the best. but without love, all that was just sheer ambition.
* jee-jessh

19 July 2009

untitled

jika aku boleh marah, aku pasti marah. jika aku boleh menangis, aku pasti menangis. tapi yang terjadi, amarah ku lenyap dan tangisku tak terdengar. aku hanya berusaha untuk tegar menanti sebuah keadilan di tengah sebuah masalah besar yang bahkan tak kuketahui apa penyebab sebenarnya.

bermula dari sebuah curahan hati kepada seseorang yang berarti dan sudah seperti saudara kandung sendiri. ungkapan suka-duka yang begitu menggebu telah keluar semuanya tanpa ada sisa. tak ada satu kebohongan pun di dalamnya. hanya ada kepolosan dan ketulusan ketika menceritakannya. dan yang terpenting TIDAK PERNAH ADA NIAT UNTUK MERUGIKAN PIHAK MANA PUN sebenarnya.

tiba-tiba banyak pihak yang mengumbar amarahnya. bahkan kata-kata najis yang tak pantas diucapkan pun tertuang dalam berbagai deretan kalimat. kata-kata yang begitu aku benci. kata-kata yang tak pernah aku suka. bahkan cara mengatakannya pun tak pernah bisa ku terima. dan sayang sekali, kata-kata itu semuanya tertuju pada satu pribadi, yaitu aku.

aku yang akhirnya tertegun menatap deretan tulisan itu, tak satu pun aku paham alasannya. tapi ada satu yang aku tau, ada sesuatu hal yang aneh telah terjadi. dan aku lah yang dianggap biang onar nya. aku menghubungi si pengumbar berita. aku jelaskan seluruhnya yang aku tau. seluruh ungkapan yang telah aku ungkapkan dengan sukacita. dan jelas lah semuanya. ada sebuah kesalah pahaman di sana.

aku merasa dirugikan, namun kupendam semuanya. bagiku yang terpenting semua sudah kembali seperti sedia kala. tapi ternyata belum, belum semuanya sempurna. ada beberapa pihak yang masih memusuhiku. menghapusku dari dafar temannya, tak mau lagi menjawab sapaanku. amarahku memang tak tertahan lagi, tapi untuk apa aku marah. aku berada pada posisi yang kalah kuat dengan semuanya. itu semua karna aku seorang anak kecil. anak kecil yang terlalu bersemangat ketika ia bercerita betapa bahagia dirinya. sehingga titik dan koma pun terlewat dan menjadikan kalimat-kalimat baru yang menimbulkan malapetaka ini.

yang bisa ku lakukan hanya berdoa dan berdoa. berdoa bahwa Tuhan tidak pernah tidur bahkan Ia selalu tersenyum padaku. menopangku di kala aku akan jatuh, dan menghapus seluruh butiran air mataku. Dia lah hakim yang sungguh adil untuk semua masalah ini. Dia pun pasti tau apa yang sebenarnya terjadi.

tapi aku berjanji, apa pun kata mereka nanti, dan apa pun tindakan mereka di esok hari, aku akan tetap menyayangi setiap pribadi mereka. karena aku tau, waktu yang akan menjawab di mana seorang anak kecil itu akan menang melawan segala rasa marah nya.



*dan meski aku sempat merasa benci menjadi seorang anak kecil, aku memang seorang anak kecil yang masih butuh banyak waktu untuk belajar menjadi dewasa :)




. miss JESSICA .

No comments:

Post a Comment