before i have to move from Jakarta

everyone is looking for the best and try to be the best. but without love, all that was just sheer ambition.
* jee-jessh

29 March 2009

LIVE IN

Minggu, 22 Maret 2009
“GOOD BYE METROPOLITAN, WELCOME NEW LIFE”


Tak terasa hari ini pun tiba. Hari yang telah kami tunggu bahkan menjadikan semalam serasa seabad untuk mengawali petualangan baru yang sedang menanti kami. Semua benda yang diperlukan telah dipersiapkan, dan kini matahari telah menyambut kami dengan bahagia. Lambaian tangan kami pun akan memulai semua cerita ini.

Kira-kira pukul 15:30 WIB kami meninggalkan sekolah pujaan kami SMA Vianney, dengan menggunakan bus pariwisata Prayogo menuju Yogyakarta. Setelah sebelumnya kami telah menerima banyak petuah dari orang tua dan keluarga kami di rumah, dan mungkin juga dengan penuh haru orang tua kami melepas kami, kini kami akan beralih kehidupan.

Jessica, Mega, dan Tris; kami adalah tiga nama yang tak terpisahkan. Sebelum berangkat, kami sudah melewati hari bahagia ini dengan membuat kejutan untuk sahabat kami yang berulang tahun, yaitu Clarissa. Sepotong brownies menjadikan hari ini lebih bermakna.

Kami yang berangkat menggunakan bus C yang penuh dengan canda tawa, dan rusuh sangat menantikan kehidupan yang telah kami bayangkan. Perhentian demi perhentian di jalan, seakan membuat kami semakin tidak bisa beristirahat karena sudah tidak sabar untuk segera tiba di kota pelajar. Andai kami punya sayap, mungkin kami sudah terbang jauuuh sekali sehingga lekas sampai di sana. Namun perjalanan jauh ini akhirnya membuat mata kami pun tak sanggup lagi untuk siaga, namun di dalam hati kami, sepotong kalimat telah mengawali petualangan kami :
“GOOD BYE METROPOLITAN, WELCOME NEW LIFE”
**
Senin, 23 Maret 2009
“TIRIP KU , RUMAH KU”
by : Jessica
Sekitar pukul 07:00 akhirnya sampailah kami di gereja Boro. Setelah melewati sarapan bersama dan tanda pelepasan oleh Kepala Sekolah, kami segera di antar per kelompok menuju desa kami masing-masing dengan menggunakan mobil angkutan sewaan. Berhubung kami mendapat Desa Tirip yang katanya letaknya paling dekat, kami diantar paling terakhir.

Rasa gugup dan menggebu-gebu semakin tak tertahan. Akhirnya kami diantar ke desa kami dan diturunkan di jalan. Kami diharuskan membawa barang-barang kami menuju rumah kami masing-masing. Para orang tua asuh telah menunggu, termasuk juga orang tua asuh kami. Seorang Bapak bertubuh kurus yang membawa sepeda ontel, menyapa Jessica. Bapak itu adalah Bapak kami, ‘Pak Jono’. Namun, Bapak itu mengerjai Mega.
“Rumah Pak Jono di mana, Pak?” tanya Mega dengan polosnya.
“Itu di atas” Jawab Pak Jono tenang.
“Pak Jono nya mana?” tanya Mega dengan entengnya.
“Nanti kalian di jemput di atas” jawab Pak Jono kemudian.
Aku tertawa keras sampai memegangi perut. Betapa bodoh dan lucunya Mega. Akhirnya setelah melihat aku tertawa keras, baru lah Mega menyadari kebodohannya dan akhirnya menyadari bahwa orang yang sedari tadi di interogasinya adalah Pak Jono.
Kami membawa koper kami menanjak jalan. Bapak menawari kami membawakan barang bawaan kami, tapi kami bertiga menggeleng bersamaan dan tetap tersenyum meski dalam hati bertanya-tanya “mana rumahnyaa???” . hahahaha.
Akhirnya sebuah rumah pondok terlihat. Tanahnya cukup luas dan asri. Rumah sederhana berpintu kayu. Ada kandang sapid an dua sapi besar sebagai penghuninya. Kami disambut oleh tiga anjing yang ternyata bernama Bodong, Bocil, dan yang kecil bernama Chelsea. Aku yang takut anjing langsung kalap, sementara Mega dan Tris mengelus mereka.

Kami dipersilahkan masuk dan Bapak menunjukkan letak kamar kami. Setelah menggeletakan barang-barang kami di kamar, kami keluar lagi karena Bapak menjamu minuman teh manis hangat. Kami pun mengeluarkan oleh-oleh makanan yang kami bawa dari Jakarta. Ada Chiffon cake, Brownies, Tango, Twister dan roti sobek. Seketika, penuhlah meja makan Bapak dengan semua oleh-oleh kami.
“Ibu ke mana, Pak?” aku membuka pembicaraan.
“Ibu belum pulang kerja dari pabrik tenun. Kalian namanya siapa aja sih, Bapak belum kenalan nih dari tadi” jawab Bapak.
“Aku Jessica, Pak, panggilnya Jessie aja, yang pake kacamata ini Tris, yang paling pendek ini, Mega” aku memperkenalkan diriku dan memperkenalkan teman-temanku.
“Oh, kalo nama Bapak sudah tau toh? Kalo Ibu namanya Ibu Sunarti tapi panggilnya Ibu Narti saja, terus nanti kakak pulang, panggil aja Kak Dwi, kalo anak Bapak yang pertama sudah merantau ke Jakarta, namanya Alfonsus Margono..” Bapak pun gantian memperkenalkan keluarganya.
“Mmm, kalo kakak kerja di mana, Pak?” gentian Tris yang bertanya.
“Kakak sekarang lagi jadi guru pengganti di SD deket sini, soalnya gurunya lagi cuti melahirkan. Tapi cuma dua bulan. Ngomong-ngomong, udah pada mau mandi belom?”
“Boleh deh, Pak. Lagian udah gerah juga nih. Kamar mandinya sebelah mana ya, Pak?”
Bapak menunjukkan letak kamar mandi yang ternyata ada di luar rumah tepatnya di kebun belakang. Kami bertiga mempersiapkan alat mandi dan semuanya, dan akhirnya mandi bertiga. Lagi-lagi ada kebodohan yang dilakukan oleh Mega.
“Waaaaaaa!!” teriak Mega ketika sedang giliran Tris mengguyur tubuhnya.
“Apaan sih, Ga? Kaget gue..” jawabku.
“Gue takuttt.. gue keluar yaa.. haaaa..” Mega gemetar denga anehnya.
“Lo kenapa sih, Ga? Ada apaan?” tanya Tris kemudian.
“Ada cicak negro tuh di atas.. huhuhuhu..” Mega menunjuk ke langit-langit atas kamar mandi dan memang terlihatlah dua ekor cicak berwarna hitam legam.
“Ya ampun, Mega.. gue pikir apaan. Udah, dia ga bakal jatoh kok” aku menenangkannya.
“Gue keluar ya, gue takut nihh.. Eh! Liat deh tuh Lele lompat dari embernya” tiba-tiba Mega menunjuk ember berisi Lele yang dipelihara Bapak, dari dalam kamar mandi yang pintunya memang memiliki celah yang cukup besar.
“Ya udah sana keluar. Entar kalo dipanggil dateng ya bawain sikat gigi gue ketinggalan..hehe..” jawabku enteng tanpa peduli dengan Lele yang lompat itu.
Aku dan Tris melanjutkan acara mandi kami, dan setelah selesai aku memanggil Mega. Mega datang membawakan sikat gigiku, dan menungguku menyikat gigi. Lalu aku keluar dari kamar mandi.
“Je, mana ya tadi tuh lele yang lompat. Padahal gue mau kasih liat” kata Mega.
“Emang tadi lompatnya ke mana?” tanyaku.
“Mestinya sih ke daerah sini” jawab Mega masih mencari..
Tiba-tiba…
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!” Mega menjerit keras, melompat-lompat dan menangis.
“Ga, lo kenapa lagi?” tanyaku heran.
“Lele nya gue injek.. Waaa!! Gue shock..” Mega menutup wajah dengan kedua tangannya dan disusul kedatangan Bapak.
“Ada apa toh?” tanya Bapak.
“Nih, Pak.. Mega nginjek Lele..” jawabku geli.
“Ya ampun, Bapak pikir ada apa toh. Yo wes, Mega dibawa masuk sana minum dulu” jawab Bapak sambil memasukkan kembali Lele malang itu.

Aku dan Tris hanya bisa mentertawakan Mega. Baru datang, sudah banyak skandal memalukan yang dibuatnya. Tak lama, sekitar pukul 13:30, ibu pulang, tapi Bapak pergi Genduri (acara selametan). Kami menyambut ibu dan ibu pun menyambut kami hangat.

Kami ngobrol-ngobrol dan menceritakan pengalaman ‘bodoh’ Mega sejak tadi pagi. Ibu menanggapinya dengan tertawa lepas dan membuat kami tidak canggung lagi. Bu Frida dan Bu Ida datang ke rumah kami tepat ketika Bapak pun pulang. Beliau berdua ramah tamah dengan Bapak dan Ibu sebagai tanda telah menitipkan kami untuk Live In di tempat ini. Setelah itu, kami bertiga ikut dengan Ibu Frida dan Ibu Ida berkeliling menghapiri setiap rumah dan berjanji pada Ibu kami, bahwa kami akan ikut Ibu ke sawah sore ini.

Setelah keasikkan berkeliling, kami lupa pada janji kami. Ibu telah menunggu di ujung jalan, seharusnya kami segera berangkat ke sawah, namun ternyata aku demam, sehingga kami bertiga akhirnya batal ikut ke sawah. Sesampainya di rumah, aku dikerokkin oleh Tris, dan meminum obat penurun demam. Ajaib! Tak lama setelah itu aku sembuh begitu saja sehingga bisa ikut menyambut kakak yang baru saja pulang mengajar.

Malamnya, kami semua memasak bersama. Ibu memasak kangkung yang sangat lezat, Bapak membersihkan Lele untuk digoreng, kami bertiga bergantian menhancurkan dan menghaluskan bawang serta kemiri, dan kakak menyiapkan meja makan. Setelah itu kami makan bersama dengan diterangi seberkas cahaya lilin karena tiba-tiba mati lampu.
“Lucu yah, kayak candle light dinner” kataku memecah keheningan.
“Iya, romantis” sambung Tris.
“Kalian iso boso jowo ora?” tanya Bapak.
“Siti-siti yo iso, Pak..” jawabku disambut gelak tawa kedua temanku.
“Yo wes, nanti belajar biar bisa banyak” sambung Ibu.
“Sip! Nanti abis makan aku kursus bahasa Jawa" aku bersemangat.
Makan malam yang begitu penuh rasa kekeluargaan. Dengan perut kenyang, kami mengobrol bersama. Aku belajar bahasa Jawa dengan Bapak, Ibu, dan kakak,, sementara Tris sedang melakukan ‘saat teduh’ dan Mega menghafalkan kamus cilik yang berisi beberapa kosa kata bahasa Jawa. Tak berlangsung lama, karena mungkin kami pun masih lelah akibat perjalanan jauh. Sehingga kami akhirnya pamit tidur.. Zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz…..


**

* ini rumah kamii ((: *




* Nahh, ini sapi nya Bapak *



Senin, 24 Maret 2009
* INSIDEN TELUR GULUNG *
by : Mega

Huammm.. Rasa mengantuk masih merasukki tubuh kami. Pukul 05:00, Jessie seperti ‘Mami’ yang membangunkan anak-anaknya yang susah diatur seperti aku dan Tris. Kami semua bangun, mencuci muka, menyikat gigi, dan menyapa Bapak, Ibu serta kakak. Kami semangat sekali karena Ibu akan mengajak kami berbelanja di pasar yang menempuh jarak 2 KM dari rumah. Kami telah berjanji untuk memasak hari ini dengan menu utama “Telur Gulung ala Jessie dan Brokoli ala Tris”. Dan aku berperan sebagai koki pencicip. Haha.

Kami disuguhi sarapan pisang goreng uenak tenan buatan Ibu, dan bersiap-siap pergi ke pasar. Selama perjalanan, kami tetap mengobrol. Kami selalu merasa kagum dengan semua yang kami lihat; tumbuhan, sawah, sungai dan bahkan jalan berliku. Kami bertiga sempat bercanda mengenai rumus-rumus fisika, dan memperdebatkan debit air sungai yang kami lalui.


Sampailah kami di pasar, dan aku sudah seperti jumpa fans bertemu dengan teman-teman yang berada di desa lain. Berfoto-foto bertukar pengalaman, dan akhirnya membantu ibu membawa belanjaan yang begitu banyak. Entah apa saja yang sudah dibeli oleh Ibu. Yang pasti, kami senang sekali dapat menemani ibu berbelanja.

Selama perjalanan pulang, kami sudah mulai membicarakan pembagian tugas memasak. Dan sampai di rumah, kami siap tempur menuju dapur. Jessie mulai mempersiapkan smua bahan, memotong daun bawang, dan aku mengocok semua bahan-bahan itu dengan telur. Tris yang merupakan ‘pakarnya tungku’ menyalakan api pada tungku dan mempersiapkan wajan. Minyak sudah dituang dan telur siap dimasak.

Wahh,, tak semudah yang dibayangkan, Jessie pun sampai banjir keringat dan telur yang seharusnya berwajah oke itu malah menjadi seperti ikan gurame. Ibu akhirnya ikut membantu memadatkan isi telur. Kami meledek Jessie tak henti. “Gagal nih, yee..” hahahaha..

* ayo, semangat, jeee!! hahaha *

* SUNGAI TAMPAK BERLIKU, SAWAH HIJAU TERBENTANG *

Setelah menyantap makan pagi dengan menu buatan kami, ibu pergi ke pabrik tenun. Kami menjaga rumah. Kami bosan hanya berdiam diri di rumah dan akhirnya pergi menjelajah desa. Kami akhirnya pulang lagi untuk makan siang dan menunggu Ibu pulang dari bekerja.

Begitu Ibu pulang, kami menyambutnya dengan bahagia. Bapak pun akhirnya sampai rumah setelah tadi memupuk di sawah dan KAMI DITINGGALKAN. Huhu. Ibu berganti pakaian, makan siang, dan bersiap-siap ke sawah. Kami pun sudah siap untuk ke sawah. Bapak dan Ibu berjanji akan mengajari kami mengarit rumput untuk makanan sapi.

Sesampainya di sawah, kami agak kesulitan melewati pematang yang hanya setapak. Aku berkali-kali menghancurkan pematang sawah itu.
“Yaahh nyeburr..” teriakku di sambut dengan gelak tawa kedua temanku.
“Yah ndak papa.. nyebur aja sekalian” kata Bapak.
“Maaf ya, Pak.. hancur deh pematangnya” aku meminta maaf.
“Mega, titik berat lo lagi kurang hari ini” ledek Jessie.
“Iya nih,, hahahaha” jawabku sambil tertawa malu.
Kami turun ke sawah dan benar-benar menenggelamkan kaki kami ke lumpur sawah. Dan lagi-lagi aku melakukan kebodohan, aku menginjak beberapa padi milik Bapak.
“Pak, gawat! Padinya aku injek nih ada tiga..” kataku panik.
“Y o wes nda papa. Hahaha” Bapak mentertawakanku.
“Hayolohhh, Mega..” Jessie dan Tris terus meledekku.

Ibu mencabuti gulma yang ada di sekitar padi. Indah pemandangan ini. Bapak menyiangi padi sambil menemani kami berfoto. Tak lama kemudian, kami naik dan mengarit rumput. Aku tidak terlalu mahir, sementara Jessie dan Tris tetap bersemangat mencabuti rumput-rumput yang banyak itu sekaligus. Lalu kami duduk di pinggir selokan untuk mencuci kaki sebelum berjalan pulang ke rumah.

* Aku dan Jessie semangat banget nih ngaritnya *

Akhirnya kami berjalan pulang. Bapak dan Ibu benar-benar sangat kuat mengangkut rumput yang sangat banyak. Di rumah, Jessie memberi makan sapi, aku memberi makan kambing, dan Tris memberi makan ayam. Lalu kami mandi, dan makan malam seperti menu tadi siang, tapi bedanya, Ibu memasak ulang dengan bentuk yang indah.


Malamnya juga sama. Jessie masih setia kursus bahasa Jawa, Tris melakukan SaTe, dan aku juga masih tetap menghafal kosakata Jawa dalam kamus. Kami mengobrol bersama, bercanda tawa, dan akhirnya mengantuk sehingga kemudian tidur dan bermimpi.. zzz..



**

Rabu, 25 Maret 2009
* JALAN KE PABRIK TENUN ?? JAUH ?? SIAPA TAKUT ! *
By: Tris

Pagi ini, masih tetap sama dengan pagi kemarin. Lagi-lagi Jessie yang menjadi alarmku dan Mega. Setelah melakukan ritual kami di pagi hari (nggeliet, mencuci muka, menyikat gigi, dan menyapa semuanya), kami pamit pada Bapak untuk berjalan pagi sebentar. Kami bertiga jalan menanjak ke atas. Semakin ke atas, dan semakin jauh, pemandangan pun semakin indah. Tiba-tiba Jessie sesak nafas sehingga kami harus turun lagi dan tidak bisa melanjutkan perjalanan.
Ibu masuk kerja pagi hari ini. Setelah kami memakan bakwan buatan ibu yang sungguh-sungguh ‘mamamia lezatos’, kami bersiap-siap untuk ikut ibu ke pabrik tenun. Pabrik tenun tidak jauh dari gereja. Entah kenapa, tapi kami tidak merasa lelah. Kami melihat-lihat bagaimana cara menenun dan semua hasil tenunan pabrik ini. Ada serbet, handuk, selimut, dan masih banyak lagi.


Siang hari, kami pulang duluan karena harus makan siang. Sementara Ibu masih bekerja. Sesampainya di rumah, Bapak lagi-lagi pergi Genduri, sehingga kami tinggal bertiga. Tapi, tak lama Bapak pulang, Bapak mengajak kami melihat mata air di belakang rumah yang ternyata merupakan jalan pintas menuju rumah Pak Suyudi, yang merupakan tempat tinggal ketiga sahabat kami; Clarissa, Ratna, dan Lovel. Kami mengunjungi mereka yang ternyata baru saja pulang berjalan-jalan.

Kami juga mampir ke rumah Mbah Kakung dan Mbah Putri di belakang rumah, yang merupakan orang tua kandung Bapak. Mbah sangat ramah kepada kami. Wah, pokoknya kami sangat senang berada di sini. Ketika Ibu pulang, kami kembali bersiap-siap untuk ikut bertempur lagi mengarit rumput. Kali ini, kami sudah tidak secanggung kemarin, bahasa narsisnya ‘udah pinteran dikit’.
Setelah pulang ngarit, kami kembali memberi makan seluruh hewan peliharaan Bapak seperti kemarin. Sampai akhirnya lagi-lagi Mega membuat kami semua kaget.

“Mega, ada apaan tuh di poni lo?” tanya Jessie.
“Ga ada apa-apa ahh.” Jawab Mega santai.
“Ini apaan?” Jessie menoel kotoran di rambut Mega dan mengelap ke tangan Mega.
“Waaaaaa!!! Tahii burunggg..” Mega berteriak kalap.

Bapak, Ibu, Kakak, bahkan Mbah, dan Theo, keponakkan Kakak, serta aku dan Jessie tertawa terbahak-bahak melihat Mega yang begitu paniknya. Mega langsung masuk kamar mandi dan mandi lamaaaa sekaliii. Sehingga membuat aku dan Jessie mengantri begitu lama.

Setelah bergantian mandi, kami kembali membantu Ibu memasak makan malam. Kami makan malam bersama, dan setelah itu kami ikut Bapak, Ibu dan Kakak ke kapel karena mereka hendak latihan koor. Kami bertemu dengan teman-teman satu desa di kapel. Kami mengobrol dan bertukar cerita. Sampai tak terasa, latihan koor telah selesai dan kami kembali pulang ke rumah.
Kami masih mengobrol sampai malam, dan Jessie sudah mulai terbiasa menggunakan bahasa Jawa, aku pun sudah dinyatakan lulus dalam logat Jawaku, meskipun belum bisa bertukar kata. Setelah itu, Bapak dan Ibu menyuruh kami tidur, karena besok akan berangkat ke pasar lebih pagi. Jadi, kami masuk kamar dan pergi ke alam mimpi.


* INSIDEN KEPIK HITAM PENGGANGGU *

Entah sudah jam berapa, dan yang pasti sudah sangat larut. Aku dan Jessie yang sudah benar-benar terlelap dikagetkan dengan suara teriakkan Mega yang juga membuat Bapak dan Ibu langsung berlari menuju kamar kami.

“Waaaaaaa!!!!” teriak Mega.
“Lo kenapa, Ga?” tanya Jessie ngos-ngosan.
“Nih ada binatanggg.. gue takutt!!” Mega hampir menangis.
Bapak segera mengambil binatang yang ternyata kepik hitam itu, dan situasi aman terkendali sehingga kami kembali tidur. [dasarr Megaa.. ckckckck~]

**
* mengarit hari kedua nih *

* ini dia tempat kerja Ibu *

Kamis, 26 Maret 2009
* MENGUNJUNGI BUNDA MARIA DI GOA SENDANG SONO *
By : Jessica

Hari ini kami kembali bersiap-siap untuk berbelanja ke pasar. Kata Ibu, hari ini pasarnya pasti lebih ramai karena jauh lebih besar. Aku, Mega, dan Tris sudah tidak sabar untuk berbelanja sembako yang nantinya akan kami persembahkan untuk Bapak dan Ibu. Ssstt! Jangan bilang-bilang mereka yaah (:

Benar saja, di pasar, kami bertemu dengan banyak sekali teman-teman kami, mungkin hampir semuanya. Kami berfoto bersama. Aku dan Mega juga sibuk menawar bahan-bahan yang ingin kami beli. Sampai akhirnya terbelilah sudah semuanya. Kami bertiga juga masih sanggup membawakan belanjaan Ibu yang aduhai banyaknya, dan aduhai beratnya. Tapi, kami masih saja tertawa bahagia sambil bernyanyi-nyanyi sumbang. haha.
Sesampainya di rumah, kami langsung mandi dan bersiap-siap untuk ziarah ke Goa Maria Sendang Sono dengan menggunakan mobil angkutan. Setelah sebelumnya aku, Ibu dan Tris mengerjai Mega untuk menghabiskan makan siang dengan porsi jumbo yang menyebabkan Mega mengirimkan sms kepada teman-teman satu desa untuk membantunya menghabiskan makanan. Hahaha..

Dengan dibekali sekilo lenting oleh Ibu, kami pergi menuju Goa Maria. Kami melakukan Ibadat, dan Doa Rosario bersama. Setelah itu, kami melakukan evaluasi singkat mengenai pesan kesan yang kami terima selama kami Live In. Setelah itu, kami pulang kembali ke rumah.
Kami langsung mandi, karena tubuh sudah mandi keringat. Lalu Yunus, sang fotografer datang ke rumah kami bersama teman yang lain, hendak mengambil foto kami sekeluarga. Setelah pengambilan foto, aku dan Tris pergi ke rumah Mbah Sawal yang merupakan orang tua guru SD ku, yaitu Pak Petrus. Di temani hujan, aku menyusuri jalanan gelap tanpa lampu menuju rumah Mbah.

Mbah menyambut kami dengan ramah. Aku diajari bahasa Jawa dari bermacam tingkatan. Mbah memberi petuah-petuah baik padaku. Mbah suka juga pada lelucon dan berkali-kali tertawa saat aku mulai melucu. Kemudian kami semua pulang kembali ke rumah, dengan berteduh di bawah payung besar pinjaman dari Mbah karena hujan tidak bisa diajak kompromi.
Mega meneleponku, dan memberitahu bahwa di rumah tidak ada orang karena Bapak, Ibu, dan Kakak mengikuti doa lingkungan sehingga aku dan Tris harus menjemput Mega yang mengungsi ke rumah Randy. Kami bercakap-cakap di sana, dan akhirnya malah pindah mengungsi ke rumahku.

Bapak menggelar tikar untuk tempat kami duduk dan mengobrol. Tak lupa, Bapak dan Ibu mengingatkan kami untuk makan. Ini adalah malam terakhir kami. Sungguh berat melewati malam ini. Teman-teman pun satu persatu pamit untuk pulang. Kami mengantar mereka sampai ke jalan.
Tinggalan kami satu keluarga lagi. Bapak, Ibu dan Kakak memberi kesan-kesan dan pesan mereka kepada kami. Satu persatu kami diberi kesan yang berbeda.

“Kalian itu anak-anak baik, nda ada capeknya, rajin, ringan tangan, mau ikut ngarit, bantu Bapak Ibu, bawel, lucu, bikin Ibu Bapak seneng,, Jessie itu wong edan. Hahahaha..” begitulah Bapak memberi kesannya padaku disusul dengan gelak tawa kami semua..
“Mega itu yang paling kasian, Ibu sebenernya tadi pagi ndak tega. Dari semuanya, Mega yang paling suka diisengin temen-temennya.. hahahaha” Sambung Ibu dan membuat kami tertawa sampai ingin menangis.
“Kalo Tris itu bawel, tapi yo rajin juga.. Sama isengnya sama Jessie..” tambah kakak.
“Pokoknya, baru kali ini sepanjang sejarah Live In di sini, Bapak, Ibu dan Kakak merasa benar-benar diterima apa adanya. Kalian sudah seperti anak sendiri, selalu bisa menerima semua yang berbeda dari yang kalian punya di Jakarta. Jangan pernah lupa untuk berdoa, dan selalu rajin biar jadi sukses. Nanti sampai Jakarta, sampaikan salam dari keluarga sini untuk keluarga kalian dan guru-guru yang tidak ikut..” Bapak memberi petuah. Air mata kami sudah hampir menetes.
“Ibu juga ngerasa seneng, udah dimasakkin, kalian juga bawain belanjaan berat-berat, makannya juga banyak padahal makanannya mungkin nda enak, mau ikut jalan jauh, ngarit, semuanya deh. Ibu seneng banget bisa punya anak seperti kalian ini” Ibu menambahkan. Wajah Ibu pun sepertinya memancarkan wajah sedih seperti kami saat ini. Berat meninggalkan ini semua besok pagi.
“Kakak juga udah anggep kalian ini adik-adik kakak yang bawel-bawel, cakep-cakep, baik-baik. Yo nanti di Jakarta jangan lupa sms atau telepon kesini yaa” pesan kakak.
Kami bertiga yang seakan ingin memeluk erat seluruh keluarga ini hanya menundukkan kepala. Akhirnya aku yang mewakili untuk juga mengucapkan rasa terima kasih kami kepada Bapak, Ibu dan Kakak.
“Yah, Pak, Bu, Kak; kita juga di sini mau ngucapin terima kasih yang sebesar-besarnya karena sudah diterima dengan sangat baik di sini. Maap banget kami di sini ngerepotin terus, bikin Bapak Ibu juga mungkin terganggu aktivitasnya. Kami bertiga di sini bener-bener seneng. Kalo aja bisa lama terus tinggal di sini, kami mau banget” aku mengakhiri kata-kataku. Tak bisa lagi aku teruskan karena sepertinya air mata ini sudah sangat ingin jatuh.

Akhirnya Bapak, Ibu, dan Kakak mempersilahkan kami untuk tidur, karena besok pukul 06:00, kami sudah harus berkumpul di kapel yang nantinya akan mengikuti misa penutupan di gereja. Kami bertiga masih merenung di dalam kamar. Aku pun melihat langit-langit kamar sederhana ini. Entah kapan aku bisa berada di sini lagi. Ingin rasanya melompati satu hari lagi.
Zzzzzzz..



**

* kira-kira begini nih pasarnya (ibu yang pake baju bunga-bunga tuu..) *


Jumat, 27 Maret 2009
* KECUPAN SAYANG DARI TIRIP *

Hari ini aku membangunkan Tris dan Mega dengan tidak bersemangat. Aku pun malas untuk bersiap-siap pulang. Hatiku masih di sini, tapi ragaku sudah harus pulang ke Jakarta. Bapak dan Ibu yang selama ini tak pernah membangunkan kami malah akhirnya membangunkan karena mobil penjemput sudah datang.

Kami bertiga bersiap-siap pulang, dan hanya Tris yang mandi. Sepertinya aku dan Mega belum ingin menghapus aroma desa di tubuh kami. Ibu telah menyiapkan sarapan. Kami makan dengan malas. Tapi handphone (hp) ku sudah berkali-kali ditelepon oleh Ibu Frida karena tinggal kami bertiga yang belum datang ke kapel.

Sebelum kami benar-benar keluar meninggalkan rumah ini, Bapak dan Ibu memberi kami, satu orang satu kardus yang berisi oleh-oleh. Kami kaget, dan tak lupa juga memberikan sembako yang telah kami beli kemarin. Bapak akan mengikuti misa penutupan di Gereja, dan Ibu berjanji akan meminta ijin pada mandor untuk ijin bekerja masuk siang, sedangkan Kakak sudah harus berangkat mengajar.

Aku memeluk kakak dengan erat, disusul Tris dan Mega. Ibu pun telah kami peluk erat. Jalanan menurun yang kemarin terasa ringan, kini menjadi sangat berat untuk dilalui. Kami belum ingin pulang. Kami diangkut menuju Gereja. Tris dan Mega duduk bersama Bapak, sedangkan aku menjadi organis di tempat koor.

Misa terasa begitu panjang. Hingga akhirnya giliranku untuk mengucapkan selamat tinggal dan ucapan terima kasih di atas podium. Aku tak melihat sosok Ibu. Aku dan teman-teman koor mempersembahkan lagu Mama, dan Bunda diringi derai air mata. Aku pun akhirnya menyalami semua orang tua asuh dengan air mata haru yang masih setia menemani.

Aku mencium tangan Bapak, dan mengucapkan terima kasih. Sosok Ibu tetap belum terlihat. Setelah mengambilkan nasi box untuk Bapak sebagai sarapan, kami bertiga meminta ijin pada guru kami untuk pergi datang ke pabrik tenun. Kami ingin mengucapkan selamat tinggal pada Ibu.
Ibu Retno mendampingi kami ke pabrik tenun. Sesampainya di sana, kami memeluk Ibu bersamaan, hangat, dan lamaaaa sekali. Ibu tetap terlihat tegar meski wajahnya seakan menyimpan kesedihan seperti kami. Ibu mengantar kami sampai ke Bus.

Sebelum masuk ke Bus, Ibu mengecup kami satu persatu. Sebuah kecupan sayang yang sangat berarti untuk kami.
Aku masuk ke Bus yang berbeda dengan Tris dan Mega, karena takut asmaku kumat akibat terlalu lelah. Aku melambaikan tanganku dan air mata tetap setia bersamaku.

* foto terakhir kami bersama Bapak dan Ibu *


* BOROBUDUR DAN MALIOBORO...?? SERBUUUUU!!! *

Kami kini akan mengunjungi Candi Borobudur dan Malioboro. Meski rasa kehilangan masih membekas, tapi kami berusaha untuk tetap ceria. Panas sekali udara di Borobudur, sehingga hanya Mega lah yang naik sampai ke atas, sementara aku dan Tris hanya menunggu di bawah. Kami masih bertukar cerita dengan teman lain yang tidak naik mengenai pengalaman yang kami dapatkan selama di desa.

* ini dia Candi Borobudur yang ajaib itu *

Setelah dari Borobudur, kami menuju Malioboro untu belanja cinderamata. Wahh, kami memborong banyak sekali barang, dari mulai tas, kaos, dan gantungan kunci. Kami juga sempat mengunjungi Mall nya lohh. Dan ternyata aku mendapat sms dari kakak. Cihuyy!! Langsung kangen lagi deh sama Desa Tirip. Huhuhu.

**

Sabtu, 28 Maret 2009
* SAYONARA, JOGJAKARTA.. WELCOME TO JAKARTA *

Setelah melewati perjalanan yang penuh dengan liku-liku karena banyak jalan ditutup. Perjalanan panjang itu pun akhirnya menghantar kami dengan selamat sampai di Jakarta. Orang tua kami telah menunggu di SMA Vianney, sekolah yang telah kami tinggalkan selama satu minggu penuh.
Segera banyak cerita yang kami bagikan kepada keluarga kami. Betapa bahagia hidup kami.

Dan betapa berharganya semua pengalaman ini. Lelah, kini tak terasa lagi. Cerita kami seakan tak akan pernah ada habisnya.
Andaikan kami mendapat kesempatan Live In lagi. Wahh, pasti kami akan terus mengangguk tanpa henti.. ~

(:






























. miss JESSICA .

No comments:

Post a Comment